Ahlan wa Sahlan

" Selamat Datang di Blog Manto Abu Ihsan,...Silahkan kunjungi juga ke www.mantoakg.alazka.org

Manto Abu Ihsan " Hadir untuk perubahan"

Manto Abu Ihsan " Hadir untuk perubahan"
H.Sumanto, M.Pd : " Siap membantu dalam kegiatan Motivation Building, Spiritual Power, Get Big Spirit and Character Building."

Wednesday, March 30, 2011

Bosan dan Futur Dalam Kehidupan Rumah Tangga

dakwatuna.com - Allah SWT telah mensyari’atkan pernikahan. Dan menjadikan sebagian dari tujuannya adalah pemenuhan berbagai keperluan jiwa, fisik, sosial dan ruhani. Pernikahan adalah sumber penumbuhan kesehatan jiwa dan fisik dan benteng penjaga berbagai penyakit jiwa, penyimpangan perilaku dan akhlaq.

Sebuah kewajaran bila kehidupan berumah tangga telah melewati 5 tahun mengalami masa futur, dapat pula kurang dari itu atau lebih. Tidak mengapa pula terjadi masa-masa bosan yang bersifat temporer dan sepintas lalu. Yang penting jangan berkepanjangan, dan jangan sampai menghancurkan kehidupan berumah tangga.



* Kebosanan Umum: yaitu kebosanan yang terjadi akibat rutinitas kehidupan sehari-hari
* Kebosanan Emosional: yaitu hilangnya rasa cinta kasih di antara suami istri.
* Kebosanan Seksual: Yaitu Menjalankan hubungan seksual seakan-akan merupakan sebuah kewajiban atau tidak ada pembaharuan di dalamnya.

Gejala dan Bahaya

Ada banyak dampak, tanda dan gejala adanya future dalam kehidupan berumah tangga, di antaranya:

1. Pengaduan istri bahwa suaminya tidak perhatian dan berpaling darinya, sering keluar dan begadang di luar rumah, memperlakukannya secara kasar, kering, tanpa penghargaan. Suami juga mengadu bahwa istrinya mengabaikannya dan beralasan karena factor anak, banyak meminta anggaran belanja, tidak berhias di hadapannya, dan pengaduan-pengaduan lainnya.
2. Future dan rutinitas dalam berbagai hubungan suami istri, diantaranya: future dalam hubungan emosional dan seksualitas
3. Antara suami dan istri merasa ada jarak dan barier psikologis, padahal keduanya hidup satu atap
4. Membesar-besarkan berbagai kesalahan, buruk sangka, buruk dalam menafsirkan ucapan dan perbuatan
5. Sering terjadi perbedaan pendapat, dan suara meninggi untuk urusan sepele.
6. GTM (Gerakan Tutup Mulut) di antara suami istri, minim atau tidak ada dialog di antara keduanya sama sekali.
7. Penderitaan pihak wanita lebih banyak, sehingga kita mendapatinya bolak balik ke klinik jiwa yang jarang sekali dimasuki oleh lelaki. Hal ini karena lelaki mempunyai berbagai cara untuk berekspresi dan mencari hiburan. Berbeda dengan perempuan yang tenggelam dalam problem dan deritanya. Hal ini melahirkan berbagai rasa sakit, cemas, mengeluh sakit kepala, sakit perut, tidak ceria, tidak mampu lagi menikmati hal-hal yang biasanya dia nikmati.
8. Demi meringankan rasa bosan atau problem rumah tangga dan seksualitas, sebagian suami atau istri lari ke cara-cara yang menyimpang, semisal narkotika dengan segala bentuknya, atau menjalin hubungan haram, atau suntuk kepada pekerjaan secara berlebihan.
9. Sebagian suami mencari istri kedua, atau ketiga atau keempat. Sebagian lainnya bersabar dan menanggung deritanya. Sebagian istri bersabar dan mencoba mensiasati urusannya. Sebagian lainnya berusaha mencari kompensasi atas kegalauannya dengan membeli berbagai kebutuhan sekunder, atau menyibukkan diri dengan anak, atau melakukan penyimpangan dalam berbagai bentuk dan tingkatannya.
10. Keluarga: suami istri dan anak-anak hidup dalam berbagai perasaan negatif.
11. Bisa berakibat terjadinya berbagai pengkhianatan suami istri
12. Bisa berakibat terjadinya perceraian

Sebab

Sebagaimana futur berakibat pada munculnya gejala atau problem yang lebih besar, future juga terjadi akibat satu atau beberapa problem yang bertumpuk. Di antara sebab-sebab terjadinya future dalam kehidupan rumah tangga adalah:

1. Memasuki kehidupan berumah tangga dengan berbagai prediksi dan obsesi ideal (jauh dari fakta). Bisa jadi suami atau istri tidak merasakan idealismenya, lalu ia hidup dalam kenyataan yang bisa jadi membuatnya kecewa berat, lalu merasa future, lalu meyakini bahwa kehidupan rumah tangganya telah gagal, dan bahwasanya solusinya adalah mengakhiri kehidupan rumah tersebut dengan perceraian.
2. Pengulangan dan rutinitas harian yang membosankan.
3. Masing-masing pihak tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan level kehidupan rumah tangganya ke tingkat yang lebih baik, juga tidak sungguh-sungguh dalam mencari solusi atas setiap problem yang dihadapinya.
4. Kecurigaan dan kecemburuan secara berlebih dari salah satu suami atau istri, dan hal ini menanamkan bibit futur dalam hubungan di antara keduanya.
5. Bisa jadi sebagian penyakit fisik atau jiwa berakibat munculnya futur dengan segala bentuknya, misalnya: depresi, cemas dan schizophrenia atau split personality.
6. Hilangnya cinta kasih diantara suami dan istri dalam tempo yang lama.

Antisipasi dan Solusi

1. Penguatan hubungan dengan Allah SWT. Di antaranya, kebersamaan suami istri dalam berbagai aktivitas; seperti mengkhususkan waktu untuk melakukan wirid harian dalam menghafal Al-Qur’an, membaca istighfar, shalat sunah, bersedekah, umrah dan amal soleh lainnya.
2. Masing-masing pihak suami dan istri hendaklah merasa bertanggung jawab atas terjadinya futur di antara keduanya, karenanya, hendaklah masing-masing berperan dalam meng-’ilaj
3. Pihak istri perannya lebih besar dalam hal ini. Hendaklah ia memperbaharui dan mengembangkan cara memperlakukan suaminya, dalam melakukan sentuhan-sentuhan lembut dalam rumah, khususnya kamar tidur, masakan, penataan ruang dan perabot, menerapkan hobi-hobi baru, melakukan berbagai aktivitas keluarga di dalam rumah, refreshing keluarga, membuat berbagai kejutan, memberi hadiah secara periodik. Semua hal ini hendaklah suami juga melakukannya, sesuai dengan bidangnya.
4. Suami atau istri hendaklah mengambil inisiatif falam dialog dengan pihak lainnya, memunculkan tema untuk didialogkan. Hal ini membantu suami istri untuk melewati jurang yang muncul sebelum menganga lebar.
5. Hendaklah suami istri saling memahami, bagusnya semenjak awal pernikahan. Caranya, masing-masing berterus terang tentang apa yang disukai dan yang tidak disukai. Bersepakat bahwa masing-masing pihak akan berusaha memenuhi keperluan pihak lainnya, baik psikologis maupun fisik, seperti: menghargai, menghormati, saling menerima, khususnya saling menerima fisik, lalu menerjemahkan kesepakatan ini dalam bentuk perilaku dan ucapan … sepanjang kehidupan suami istri yang panjang, dengan seijin Allah.
6. Menghindari rutinitas dalam hubungan keluarga dan seks di antara suami istri
7. Hendaklah masing-masing suami dan istri mempelajari kemahiran berinteraksi dengan orang lain
8. Pengendalian diri saat emosi atau saat terjadi krisis
9. Kehidupan suami istri tidak lain adalah partnership dalam pemikiran, emosi dan fisik, dan semua kesertaan ini menjadikan kehidupan suami istri memiliki cita rasa yang khas yang menjauhkannya dari hantu kebosanan dan futur.

Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc

Sumber: http://arb3.maktoob.com/vb/arb223219/

Tuesday, March 29, 2011

SILABUS MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN

MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN MAHASISWA - STAISA JAKARTA.
BOBOT : 2 SKS
SILABUS DAN DAFTAR PUSTAKA
Dosen : SUmanto, M.Pd
SILABUS
I. ILMU PENGETAHUAN, METODE ILMIAH, PENELITIAN

II. DASAR-DASAR PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN
III.01 Pendahuluan
III.02 Penelitian Historis
III.03 Penelitian Deskriptif
III.04 Penelitian Perkembangan
III.05 Penelitian Korelasional
III.06 Penelitian Eksperimental
III.07 Penelitian Tindakan
IV. LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN
SESSION 1
IV.01 Pemilihan Tema, Topik dan Judul Penelitian
IV.02 Identifikasi Kebutuhan Obyektif Penelitian
IV.03 Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian

SESSION 2
IV.04 Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian
IV.05 Studi Pustaka/Telaah Teori
IV.06 Perumusan Hipotesis

SESSION 3
IV.07 Identifikasi Variabel dan Data Penelitian
IV.08 Pemilihan Alat Pengumpulan Data
IV.09 Perancangan Pengolahan Data

SESSION 4
IV.10 Metode Pengumpulan Data

SESSION 5
IV.11 Teknik Pengambilan Sampel Penelitian (Sampling)

SESSION 6
IV.12 Pengolahan dan Analisis data
IV.13 Penarikan Kesimpulan
IV.14 Pelaporan

V. METODOLOGI PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI (SUPLEMEN)

www.scribd.com/doc/4739915/METODOLOGI-PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA
1. Marzuki, 1989, Metodolgi Riset, Penerbit BPFE, Yogyakarta.
2. Nazir, 1988, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta.
3. Singarimbun, M dan S. Efendi, 1989, Metode Penelitian Survei, Penerbit LP3ES, Jakarta.
4. Suryabrata, S., 1992, Metodologi Penelitian, CV Rajawali, Jakarta,
5. Sutrisno Hadi, 1976, Metodologi Riset, Jilid 1 dan 3, Andi Offset, Yogyakarta.
6. Wasito, H., 1992, Pengantar Metodologi Penelitian, Gramedia, Jakarta.
7. Dian Retno S, Ngatindriatun, 1996, Metodologi Penelitian, STMIK Dian Nuswantoro, Semarang.
8. Petunjuk Pengelolaan Penelitian di Dirjen DIKTI, 1994, Dikti, Jakarta.
9. Bambang Sudarmoyo, Landasan Metodologi Penelitian, Bahan Penataran Metodologi Penelitian,-.

Sunday, March 27, 2011

Dari memberi aku belajar. Dakwah itu memberi.

Dakwatuna.com –
Itulah tema diskusi kami bertiga pagi itu. Dimulai dari ocehanku tentang amanah yang tak kunjung habis, tentang tenaga yang kadang turun naik, tentang teman2 teman aktivis yang tak jua menyerah. Subhanallah. Pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa ini pun shodaqoh kami.

Ya perjuangan ini adalah shodaqoh kami, infaq kami, yang kami yakini kebenaran janji_Nya atas orang yang bersedekah; 10 kali lipat bagi setiap 1 yang kami ikhlas kan. Subhanallah…..

Sering aku membaca kisah tentang shodaqoh, yang paling membuatku berkesan adalah kisah Ali r.a. yang pontang panting mencarikan fatimah sang istri yang sedang ngidam delima. Di pasar ini tak ada, di pasar situ tak ada di pasar mana-mana tak ada… hingga Ali menemukannya di suatu pasar yang sangat jauh dan itupun Cuma SATU!. Dibawalah pulang delima tersebut dengan membayangkan binar senyum sang istri tercinta. Namun ditengah jalan Ali di cegat oleh seorang pengemis yang meminta buah delimanya yang satu-satunya itu. Akhirnya TANPA PIKIR PANJANG Ali memberikannya kepada pengemis tersebut.

Sesampai dirumah Ali menjelaskan ihwal delima tersebut kepada sang istri, beruntung fatimah adalah wanita yang tinggi izzahnya, sehingga dengan ikhlas seraya mendaratkan egonya ia mengikhlaskan delima tersebut. Hingga beberapa saat setelah itu pintu rumah diketuk. Seorang lelaki dibalik pintu ternyata. Kemudian lelaki tersebut berkata wahai Ali ini adalah milikmu (seraya menyerahkan 9 buah delima), namun Ali ragu, sambil menghitung jumlahnya Ali berkata “bukan ini pasti bukan milikku” namun si lelaki asing tetap ngotot bahwa sembilan delima itu adalah milik Ali, demikian pula Ali tetap bersikukuh tidak mau menerimanya. Hingga si lelaki asing bertanya “apakah yang membuatmu tidak mau menerima pemberian ini?”. Ali menjawab “karena milikku pastilah sepuluh delima” lelaki itu kembali menjawab “ tetapi ini hanya sembilan” Ali menjawab “pasti ada sepuluh”. Akhirnya si lelaki menyerah dan mengambil satu buah delima dari sakunya seraya berkata kepada Ali “kau benar ada sepuluh delima yang seharusnya kau terima, tapi apa yang membuatmu begitu yakin?”. Ali menjawab “karena Allah telah berjanji untuk setiap shodaqoh yang ikhlas akan di balas sepuluh kali lipatnya”………
Subhanallah………..
Saking terkesannya dengan kisah itu, aku pernah mencoba bersedekah 1o ribu rupiah, hmmm pasti balasannya menggiurkan untuk ukuran anak kos seperti aku, 100 ribu gitu loh. Hingga beberapa hari kemudian aku menungu-nunggu….. berbulan….bertahun… tak lagi kuingat, karena kemudian aku mendapat materi liqo, ikhlas itu seperti pergi kebelakang yang tak kau cari lagi setelah kau buang….

Namun baru ku menyadari, Allah Yang Maha baik, Yang Maha tau, yang mana yang paling baik bagiku. Sering ketika berjalan sendirian atau naik motor aku hampir celaka. Dan celakanya, aku baru sadar beberapa waktu lalu, jangan-jangan balasan seratus ribu ku itu adalah dalam bentuk nafas yang masih ku hirup hari ini, bisa jadi sepulang kuliah tadi aku tertabrak dan tak selamat, atau dalam bentuk kemudahan-kemudahan lainnya seperti selalu dapat menyelesaikan tugas, selalu masih bisa makan teratur….

Allah…. Ampuni hamba…. Allah tau kalau memberiku uang 100 ribu aku tak kan tahan dengannya dalam waktu yang lama, maka Ia memberiku dalam bentuk lain, subhanallah…. Kerennya…..

Lain lagi cerita akhwat sebelahku, ia merasa begitu kesulitan dengan kuliah nya tahun ini, selain karena dia transferan dari universitas lain, dia harus bisa adaptasi dengan lingkungan baru dan tugas yang melebihi dosis minum obat sakit tipes.

Akhir-akhir ini dia merasa tak ada pelindung, “tabungan ku sudah habis” katanya. Sepertinya tugas2 yang ia terima begitu susahnya dan menyita waktu. Dulu di kampusnya yang lama dia adalah aktivis yang kemana2 agenda dakwah dibawa, asumsinya dia bershodaqoh dengan amalan2 dakwahnya (pelayanan kepada Allah). Namun ketika masa2 transfer yang sangat menyita waktu, dan akhirnya dia malah sempat vakum dari dakwah beberapa bulan ia merasa tak mempunyai cukup “tabungan” untuk mempermudah urusan2nya…. “dulu tugas ngebut semalam jadi dan nilai pun tak pernah mengecewakan, padahal amanah lagi gila-gilanya ehm, maksudnya lagi numpuk-numpuknya kaya cucian gitu” Akhwat itu meneruskan. Subhanallah ini adalah bentuk lain shodaqoh.

Dan benar saja memang aktivis dakwah selama yang ku tahu, sering sekali mempunyai agenda dakwah yang bentrok dengan akademiknya. Namun selalu saja turun pertolongan,. Dari mulai IJIN UAS UNTUK IKUT MUKTAMAR KELUAR JAWA hingga IJIN PRAKTEK SHOLAT DHUHA UNTUK IKUT DM3!!!, dari semula seperti akan sulit untuk meminta ijin kepada dosen yang bersangkutan, ia dengan segenap kepercayaan diri bahwa siapa yang menolong Allah, Allah akan menolongnya… and she made it!!!!

Aku sendiri selalu berusaha untuk menanamkan dalam hatiku bahwa secapek-capeknya dakwah ini, sesakit-sakitnya perjuangan ini, sejenuh-jenuhnya amal ini, kesemuanya hanyalah kembali kepadaku saja. Bisa jadi kerja kerasku ini adalah tabungan amal kebaikan ku di akhirat nanti, karena Allah tau, betapa banyak amalan buruk yang akan membuatku rugi kelak di akhirat… atau ini untuk meringankan kehidupanku didunia dengan mendapatkan banyak kemudahan yang non materi. Kadang pada suatu perjalanan aku membayangkan, mungkin ketika aku berhenti berdakwah maka selesai pula umurku, selesai pula kesehatanku…. Allah itu Bijaksana sekali yah… subhanallah jadi makin cinta sama Allah… T_T (terharu..).

Ya sudahlah, ku lupakan saja akhirnya shodaqoh 10 ribuku beberapa tahun lalu itu. Kukembalikan pada asalnya, bahwa Allah Yang paling tau mana yang paling baik bagiku, dan aku percaya dari sekian banyak penglihatan tentang hasil dakwah kami di dunia ini –yang kemudian kami namai ‘berhasil’ dan ‘kurang berhasil’ bahkan ‘tidak berhasil’ itu- aku hanya percaya tak ada yang sia-sia meski sebesar tai lalat kutu!!! (emang kutu punya tai lalat??)

…. Hingga akhirnya lantunan doa tak ada putusnya menjadi hiburanku dan kekuatanku.
“ya Muqollibal Quluub, tsabbit qobiy ‘alaa diinik” “ya Allah Yang Maha membolak balik hati, tetapkan hati kami atas agamaMu”…. Aminnnnn.